Shopping cart

Magazines cover a wide array subjects, including but not limited to fashion, lifestyle, health, politics, business, Entertainment, sports, science,

TnewsTnews
Application Security

Tantang Cyber Security dalam Renewable Energy

Tantang Cyber Security dalam Renewable Energy
1

Perusahaan energi terbarukan menghadapi risiko keamanan yang unik karena sifat infrastruktur mereka yang terdistribusi dan terkoneksi secara intensif dengan internet. Meskipun sektor energi secara keseluruhan berkembang dalam kesiapan siber, perusahaan energi terbarukan masih tertinggal dibandingkan dengan sektor minyak dan gas. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa infrastruktur energi terbarukan dapat menjadi sasaran empuk bagi serangan siber, terutama karena fokus dunia kini beralih ke investasi hijau.

Perbedaan Keamanan Antara Energi Konvensional dan Energi Terbarukan

Dalam sebuah studi oleh SecurityScorecard dan KPMG, perusahaan minyak dan gas memperoleh skor keamanan rata-rata 94 (kategori “A”), sementara perusahaan energi terbarukan rata-rata memperoleh skor 85 (kategori “B”). Ryan Sherstobitoff, Senior VP di SecurityScorecard, menjelaskan bahwa infrastruktur energi terbarukan seringkali lebih terbuka ke internet dibandingkan infrastruktur energi tradisional, sehingga meningkatkan potensi serangan.

  • Energi Tradisional:
    Infrastruktur seperti minyak dan gas umumnya menggunakan teknologi lama (legacy technologies) yang jarang terhubung langsung ke internet, sehingga lebih sulit diserang.
  • Energi Terbarukan:
    Aplikasi seperti turbin angin, panel surya atap, dan stasiun pengisian mobil listrik semuanya membutuhkan konektivitas internet untuk pemantauan dan pengelolaan jarak jauh. Kerentanan terjadi ketika sistem ini tidak dikembangkan dengan fokus kuat pada keamanan.

Tantangan Infrastruktur Terdistribusi dan Studi Kasus

Sistem energi terbarukan yang terdistribusi membawa tantangan unik dalam pertahanan siber. Meski penyebaran pembangkit energi secara geografis dapat mengurangi risiko pemadaman masif, konektivitas internet yang diperlukan oleh sistem ini justru menjadi titik lemah.

  • Kasus Serangan:
    • Pada 2022, hacktivis pro-Ukraina berhasil meretas stasiun pengisian listrik di Moskow dan menampilkan pesan dukungan untuk Ukraina.
    • Pada 2019, serangan DDoS terhadap firewall yang tidak diperbarui mengganggu pengelolaan 500 MW tenaga surya dan angin di Amerika Serikat.
  • Kerentanan di Rumah Tangga:
    Dengan semakin banyaknya rumah tangga yang menggunakan panel surya atap, setiap rumah kini berpotensi menjadi target serangan. Morten Lund dari Foley & Lardner LLP mencatat bahwa sifat terdistribusi dari energi terbarukan bisa menjadi kekuatan, tetapi tanpa perlindungan yang memadai, hal ini justru berubah menjadi kelemahan.

Risiko Pihak Ketiga dan Kebutuhan Regulasi

Hampir 47% dari pelanggaran keamanan di sektor energi melibatkan pihak ketiga, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata di industri lain (29%). Energi terbarukan sering kali dikelola oleh startup atau organisasi kecil yang belum memiliki kapasitas keamanan memadai, sehingga meningkatkan risiko serangan siber.

  • Regulasi Sebagai Pendorong Utama:
    Laporan Energy Cyber Priority 2023 oleh DNV menunjukkan bahwa 49% perusahaan energi berinvestasi dalam keamanan siber karena regulasi, sementara hanya 38% yang terdorong oleh insiden atau ancaman langsung. Negara maju umumnya memiliki perlindungan lebih baik karena regulasi ketat dan anggaran yang lebih besar.

Auke Huistra, direktur keamanan siber operasional di DNV, berpendapat bahwa meski banyak proyek energi terbarukan belum dibangun dengan mempertimbangkan keamanan, industri ini mulai menyadari pentingnya perlindungan. Perusahaan yang cepat beradaptasi dengan regulasi dan insiden akan lebih mampu melindungi infrastruktur mereka.

Pendekatan proaktif sangat diperlukan untuk melindungi infrastruktur energi hijau dari ancaman siber. Kolaborasi antara penyedia layanan, pemerintah, dan perusahaan teknologi juga menjadi kunci untuk meningkatkan keamanan secara menyeluruh.

Ke depan, investasi dalam sistem pertahanan siber harus diprioritaskan seiring dengan berkembangnya energi terbarukan. Tanpa langkah preventif yang memadai, infrastruktur ini akan semakin rentan terhadap serangan yang berpotensi mengganggu tidak hanya perusahaan tetapi juga masyarakat luas.

Comments are closed

Related Posts