Shopping cart

Magazines cover a wide array subjects, including but not limited to fashion, lifestyle, health, politics, business, Entertainment, sports, science,

TnewsTnews
Cyber News and Update

Tim SOC: Tool Deteksi Ancaman Justru Membebani Kinerja Kami

Tim SOC: Tool Deteksi Ancaman Justru Membebani Kinerja Kami
14

Banyak profesional keamanan siber merasa kewalahan oleh false positives (alarm palsu) yang dihasilkan oleh Tool deteksi ancaman. Kondisi ini memicu kelelahan dan frustasi pada para praktisi di Security Operations Center (SOC), yang justru bisa membuat ancaman nyata lolos dari pengawasan.

Hasil Survei: Masalah False Positives dan Beban Kerja

Sebuah survei oleh Vectra AI terhadap ratusan profesional keamanan siber mengungkap keluhan utama para tim SOC terkait dengan Tool deteksi ancaman. Jumlah alarm palsu yang tinggi menyebabkan para pekerja mengalami burnout dan sering kali, ancaman nyata tidak terdeteksi di antara ribuan notifikasi yang tidak relevan.

Mark Wojtasiak, Wakil Presiden Riset dan Strategi di Vectra AI, mengakui bahwa frustrasi ini bukan hal baru. Menurutnya, bukan sekadar masalah deteksi ancaman, tetapi tim SOC sedang menghadapi tantangan sinyal serangan. Meski ada janji bahwa konsolidasi dan penggunaan platform terpadu akan membantu, banyak SOC masih bergantung pada Tool yang kurang efektif dalam memberikan sinyal serangan yang akurat.

Kondisi Kerja Tim SOC

Setiap harinya, SOC menerima rata-rata 3.832 notifikasi keamanan. Dengan sumber daya yang terbatas—baik itu puluhan staf atau hanya beberapa orang—kondisi ini menjadi tidak terkendali. Akibatnya:

  • 81% personel SOC menghabiskan minimal dua jam setiap hari hanya untuk memilah dan menilai notifikasi.
  • 62% notifikasi diabaikan karena dianggap tidak relevan.
  • 71% profesional merasa khawatir setiap minggu akan melewatkan serangan yang tersembunyi di antara notifikasi yang tidak penting.

Sebagian besar tim SOC mulai merasa kesal kepada vendor software keamanan. Sebanyak 60% responden mengatakan bahwa mereka membeli perangkat lunak keamanan hanya untuk memenuhi persyaratan kepatuhan, dan 47% tidak mempercayai Tool yang mereka gunakan. Bahkan, 62% meyakini bahwa vendor sengaja membanjiri mereka dengan notifikasi agar bisa mengatakan, “Kami sudah memperingatkan,” saat terjadi kebocoran data.

Tantangan Deteksi Ancaman dan AI sebagai Solusi

Wojtasiak menyoroti bahwa penerapan AI (Artificial Intelligence) bisa menjadi kunci perubahan paradigma dalam keamanan siber. Saat ini, banyak organisasi masih berpikir dalam kerangka siloed—mengelola keamanan jaringan, endpoint, identitas, email, dan AI generatif secara terpisah. “Pendekatan ini mempersulit manusia untuk memahami seluruh ancaman secara menyeluruh,” ujar Wojtasiak.

Sebaliknya, penyerang modern melihat semua celah sebagai satu permukaan serangan besar. Maka, pendekatan keamanan juga harus holistik. AI dapat digunakan untuk menghubungkan berbagai deteksi ancaman, menganalisis pola perilaku penyerang, dan memberikan sinyal serangan terpadu kepada analis SOC.

Beberapa tim SOC mulai merasakan manfaat dari implementasi AI. Survei Vectra AI menunjukkan:

  • 67% responden merasa AI meningkatkan kemampuan mereka dalam mendeteksi dan mempertahankan diri dari ancaman.
  • 73% profesional melaporkan bahwa AI membantu mengurangi burnout.
  • Hampir 90% organisasi telah meningkatkan investasi mereka dalam teknologi AI dan berencana melanjutkan upaya ini.

“Kami sudah mendengar dampak positif dari penerapan AI—seperti berkurangnya beban kerja, burnout yang lebih sedikit, dan berkurangnya fragmentasi Tool,” ujar Wojtasiak. Harapannya, frustrasi yang dirasakan tim SOC akan berkurang seiring digantikannya Tool warisan lama dengan teknologi AI yang lebih akurat.

Kesimpulan

Permasalahan SOC dengan Tool deteksi ancaman menyoroti ketergantungan berlebihan pada teknologi yang tidak efektif dan frustrasi akibat overload informasi. Tool deteksi ancaman, jika tidak dikelola dengan baik, malah menjadi penghalang alih-alih membantu dalam menemukan ancaman nyata.

AI menawarkan solusi yang lebih efektif dengan mengurangi beban pekerjaan repetitif dan memberikan analisis terintegrasi. Namun, penerapan AI juga harus disertai dengan pelatihan yang baik dan perubahan pola pikir di lingkungan keamanan siber.

Para Pakar keamanan siber menyarankan organisasi untuk berinvestasi dalam Tool yang dapat memberikan sinyal serangan yang akurat dan terintegrasi, bukan sekadar memenuhi persyaratan kepatuhan. Mereka juga menekankan pentingnya evaluasi vendor dan pemilihan solusi yang benar-benar membantu meringankan beban tim SOC.

Sebagai contoh studi kasus, perusahaan yang berhasil mengimplementasikan AI dalam sistem SOC-nya melaporkan peningkatan deteksi ancaman dan penurunan burnout personel. Perubahan ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya teknologi tambahan, tetapi solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi dan ketepatan dalam mendeteksi ancaman.

Pada akhirnya, keberhasilan SOC bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga bagaimana organisasi mampu memahami, mengelola, dan merespons ancaman secara proaktif dengan dukungan AI dan manajemen yang tepat.

sumber berita: https://www.darkreading.com/vulnerabilities-threats/soc-teams-threat-detection-tools-stifling

 

Comments are closed

Related Posts