Shopping cart

Magazines cover a wide array subjects, including but not limited to fashion, lifestyle, health, politics, business, Entertainment, sports, science,

TnewsTnews
Big Data Security

The Spy Collection — Through the PRISM

The Spy Collection — Through the PRISM

Pada 16 Februari lalu, lagu Through the PRISM dirilis bersama dengan video lirik resminya. Lagu ini terinspirasi oleh FISA Section 702 dan program PRISM milik NSA (National Security Agency) yang lebih dikenal dengan SIGAD: US-984XN. Lagu ini diciptakan dengan kombinasi metode penulisan lagu tradisional dan teknologi AI generatif. Lirik lagu ini menggambarkan bagaimana privasi kita dapat terancam dalam dunia digital yang semakin terkoneksi, di mana data pribadi kita bisa dilihat dan diambil oleh entitas tertentu.

FISA (Foreign Intelligence Surveillance Act) Section 702 adalah undang-undang AS yang memungkinkan pemerintah mengumpulkan data komunikasi warga asing di luar Amerika tanpa surat perintah pengadilan. Namun, dalam praktiknya, data warga AS yang berkomunikasi dengan target asing juga sering tersapu dalam proses ini. Program PRISM (Planning Tool for Resource Integration, Synchronization, and Management) adalah salah satu instrumen utama NSA untuk mengakses langsung data pengguna dari perusahaan teknologi seperti Microsoft, Yahoo, Google, Facebook, YouTube, dan Apple.

Lirik “Microsoft Yahoo Google Facebook YouTube and apple they all in it” mengacu pada kolaborasi antara perusahaan teknologi dengan pemerintah AS. Melalui PRISM, NSA memperoleh akses ke server perusahaan-perusahaan ini untuk mengumpulkan metadata (seperti waktu, durasi, dan lokasi komunikasi) serta konten langsung (email, pesan, file). Metadata mungkin terkesan tidak penting, tetapi analisis pola metadata dapat mengungkap hubungan sosial, kebiasaan, bahkan lokasi seseorang.

Infrastruktur Pengumpulan Data: Kabel Bawah Laut dan Lalu Lintas Global

Lirik “submarine cables mapped all the strands” merujuk pada infrastruktur kabel bawah laut yang menjadi tulang punggung internet global. Sekitar 95% data internasional mengalir melalui kabel-kabel ini, dan banyak di antaranya berpangkalan di AS. NSA memanfaatkan posisi strategis ini untuk menyadap lalu lintas data melalui program seperti UPSTREAM, yang menangkap data langsung dari kabel serat optik.

Penyadapan ini tidak hanya mencakup komunikasi asing tetapi juga warga AS, meskipun secara hukum dilarang. Teknik Deep Packet Inspection (DPI) digunakan untuk memfilter data berdasarkan kata kunci, alamat IP, atau jenis file tertentu. Misalnya, kata “selectors to rise” dalam lirik bisa merujuk pada parameter yang ditetapkan NSA untuk menandai data yang “mencurigakan”.

Apa itu PRISM?

PRISM adalah sebuah program pengawasan yang dioperasikan oleh NSA, yang memungkinkan badan intelijen ini untuk mengakses data komunikasi dan informasi pribadi dari beberapa perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, seperti Microsoft, Yahoo, Google, Facebook, YouTube, dan Apple. Program ini memperoleh data melalui FISA Section 702, yang memungkinkan NSA untuk mengumpulkan informasi tanpa izin individu yang terlibat dalam komunikasi tersebut, asalkan salah satu pihak dalam komunikasi adalah orang yang berada di luar negeri.

Lirik dalam lagu ini menggambarkan bagaimana data pribadi yang seharusnya tetap bersifat pribadi, seperti percakapan melalui aplikasi atau email, justru dikumpulkan dan dianalisis oleh pemerintah Amerika Serikat melalui program seperti PRISM. “No more secrets” dalam lagu ini menyiratkan bahwa semua informasi kita dapat diakses, tanpa adanya perlindungan yang memadai dari pihak-pihak yang tidak berwenang.

Ancaman yang Tersembunyi dalam Cyber Space

Ancaman yang muncul dari pengawasan masif seperti PRISM bukan hanya mengenai pencurian data, tetapi juga berkaitan dengan hilangnya kebebasan pribadi di dunia maya. Di dalam lagu tersebut disebutkan tentang “mass surveillance” (pengawasan massal), yang menunjukkan bagaimana tindakan ini melibatkan pengumpulan data yang luas, termasuk data pribadi dan komunikasi yang bahkan tidak terdeteksi oleh pengguna. Sebagian besar data ini bisa dieksploitasi tanpa kita sadari.

Cyber space yang sejatinya merupakan tempat yang bebas dan terbuka bisa menjadi “tempat yang aman” bagi pengumpul data, namun dengan harga yang mahal bagi individu yang kehilangan hak privasinya. Ketergantungan pada perangkat teknologi dan layanan internet, yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita, membuka celah bagi penyalahgunaan data. Data pribadi yang dapat digunakan untuk tujuan lain, seperti peretasan atau bahkan pengaruh politik, menjadikan potensi ancaman ini sangat besar.

Bagaimana PRISM Bekerja?

Melalui PRISM, NSA dapat memanfaatkan kemitraan dengan perusahaan teknologi besar untuk mendapatkan akses langsung ke data yang dihasilkan oleh pengguna. Secara teknis, PRISM berfungsi dengan cara menyalurkan data komunikasi yang melibatkan individu di luar negeri melalui infrastruktur komunikasi utama di Amerika Serikat, yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan besar ini. NSA tidak hanya memonitor komunikasi berupa email atau pesan teks, tetapi juga data yang lebih kompleks, termasuk percakapan audio dan video, serta metadata yang mengungkapkan pola interaksi antar individu.

Program ini memanfaatkan selektor (selectors) yang berfungsi untuk memilih data yang relevan. Selektores ini bisa berupa alamat IP, nomor telepon, atau istilah pencarian tertentu yang memungkinkan NSA untuk mengidentifikasi dan memantau komunikasi yang dicurigai tanpa memerlukan izin lebih lanjut.

FIS 702 dan Risiko Penyalahgunaan Data

FISA Amendments Act Section 702 (FIS 702) adalah payung hukum yang memperpanjang kewenangan PRISM. Lirik “FIS 702 is all you need to harvest the whispers” menggambarkan betapa mudahnya program ini mengumpulkan data sensitif. Risiko terbesar adalah mission creep, di mana data yang awalnya ditujukan untuk keamanan nasional dialihkan untuk kepentingan lain, seperti pengawasan politik atau penegakan hukum domestik.

Contoh nyata terjadi pada 2021, ketika NSA dilaporkan mengumpulkan data ponsel warga AS tanpa surat perintah untuk melacak protes Black Lives Matter. Kebocoran data juga rentan terjadi — pada 2013, Edward Snowden membongkar bagaimana PRISM digunakan untuk memantau jutaan orang secara tidak proporsional.

Privasi vs Keamanan: Apakah Harus Dibayar dengan Kebebasan?

Lirik “Freedom’s the price we might never know” mengingatkan bahwa pengawasan massal sering kali mengikis privasi tanpa transparansi. Meski argumen keamanan nasional digunakan sebagai pembenaran, kurangnya pengawasan independen terhadap program seperti PRISM menimbulkan kekhawatiran. Teknologi enkripsi end-to-end (seperti WhatsApp atau Signal) menjadi benteng terakhir perlindungan privasi, tetapi upaya pemerintah melemahkan enkripsi — seperti melalui backdoor — terus mengancam.

Dampak dari Pengawasan Massal

Dampak dari pengawasan massal melalui program seperti PRISM sangat luas, mulai dari berkurangnya kepercayaan terhadap perusahaan teknologi yang menyediakan layanan mereka kepada pemerintah, hingga potensi pengawasan yang mengarah pada pelanggaran kebebasan sipil. Masyarakat yang merasa diawasi akan semakin takut untuk mengekspresikan diri secara bebas, berpotensi menekan diskusi terbuka dan pertukaran ide yang penting dalam demokrasi.

Lirik dalam lagu ini yang berbicara tentang “just a name in the file” mengindikasikan bagaimana setiap individu, yang mungkin tidak terlibat dalam kegiatan kriminal atau teroris, juga dapat menjadi subjek pengawasan yang tidak proporsional. Dalam dunia yang terhubung secara digital, data pribadi setiap orang dapat dengan mudah teridentifikasi dan disalahgunakan.

Lagu Through the PRISM bukan hanya sekedar karya musik, tetapi sebuah kritik terhadap pengawasan massal yang semakin mengancam privasi kita. Melalui PRISM, program pengawasan NSA yang terkenal, data pribadi kita tidak lagi aman. Dalam dunia yang semakin terhubung, penting bagi kita untuk menyadari bagaimana teknologi yang kita gunakan dapat mempengaruhi kebebasan pribadi dan hak privasi. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang sistem seperti PRISM, kita diharapkan bisa lebih berhati-hati dalam menjaga data pribadi serta menciptakan ruang yang lebih aman di dunia maya.

The Spy Collection — Through the PRISM bukan sekadar lagu, tetapi refleksi kritis atas dunia yang semakin terhubung dan rentan terhadap pengawasan. Program seperti PRISM mengungkap dilema modern: bagaimana menyeimbangkan keamanan dengan hak privasi. Di tengah perkembangan AI dan big data, kesadaran publik serta regulasi yang transparan menjadi kunci untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Seperti dikatakan dalam lirik, “through the prism, we’re all alike” — dalam era digital, setiap orang berpotensi menjadi titik data dalam layar pengawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts