Sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, aktivitas siber yang terkait dengan intelijen militer Rusia mengalami peningkatan signifikan. Google menilai bahwa keterbatasan sumber daya dan tekanan operasional telah mendorong kelompok-kelompok peretas Rusia untuk semakin sering menggunakan malware dan alat yang bersifat publik atau gratis. Taktik ini dikenal sebagai “low-equity” approach—strategi yang memungkinkan mereka untuk tetap menjalankan operasi tanpa harus mengembangkan alat baru dari nol.
Dengan menggunakan malware yang banyak tersedia di dunia kejahatan siber, Rusia mengurangi biaya dan risiko operasional. Jika serangan mereka terdeteksi, mereka tidak perlu menginvestasikan sumber daya besar untuk menciptakan malware baru, sehingga tetap bisa menjalankan operasi berikutnya dengan cepat. Selain itu, penggunaan alat yang sudah tersebar luas di komunitas kriminal juga mempersulit pelacakan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
APT44: Kelompok Peretas di Balik Serangan Siber Rusia
Salah satu kelompok ancaman yang didukung oleh intelijen militer Rusia adalah APT44, yang juga dikenal dengan sebutan Sandworm atau FROZENBARENTS. Kelompok ini hampir pasti mengandalkan perusahaan Rusia dan pasar gelap kriminal untuk memperoleh alat dan infrastruktur yang mereka gunakan dalam serangan siber.
APT44 dikenal memanfaatkan alat-alat yang bersumber dari komunitas kriminal siber, termasuk:
- DARKCRYSTALRAT (DCRAT)
- WARZONE
- RADTHIEF (Rhadamanthys Stealer)
- Bulletproof hosting yang disediakan oleh aktor kriminal berbahasa Rusia seperti yalishanda, yang dikenal aktif di forum-forum kejahatan siber.
Kampanye Serangan APT44
Dalam beberapa tahun terakhir, APT44 semakin aktif dalam melancarkan serangan siber, khususnya terhadap Ukraina dan negara-negara yang mendukungnya. Beberapa kampanye serangan yang mereka lakukan antara lain:
- Serangan terhadap Ukraina dan Polandia (2022-2023): APT44 menggunakan RADTHIEF dalam kampanye spear-phishing yang menargetkan perusahaan manufaktur drone Ukraina. Mereka memanfaatkan SMOKELOADER, alat yang sering digunakan dalam dunia kriminal siber, untuk menginfeksi korban dengan malware mereka.
- Serangan terhadap Polandia dan Ukraina (Oktober 2022): APT44 menggunakan ransomware PRESSTEA (alias Prestige) untuk menyerang perusahaan logistik di Polandia dan Ukraina. Ini merupakan salah satu kasus langka di mana kelompok ini menyerang negara anggota NATO.
- Serangan NotPetya (2017): APT44 menggunakan ETERNALPETYA (alias NotPetya), sebuah wiper yang disamarkan sebagai ransomware, yang bertepatan dengan perayaan Hari Konstitusi Ukraina.
- Serangan terhadap jaringan listrik Ukraina (2015): APT44 mengadaptasi varian malware BLACKENERGY, yang awalnya dikembangkan sebagai alat serangan Distributed Denial-of-Service (DDoS), untuk melumpuhkan jaringan listrik Ukraina.

Infografis ini menggambarkan bagaimana negara Rusia semakin memanfaatkan malware dan tool-tool dari pasar kejahatan siber (crime marketplaces) untuk mendukung operasi sibernya.
Poin-Poin Utama dalam Infografis:
- Malware – Rusia memperoleh malware dari pasar gelap dan forum kejahatan siber untuk digunakan dalam operasi peretasan mereka.
- Exploits – Eksploitasi kerentanan (exploits) yang dijual di forum kejahatan siber digunakan untuk membobol sistem keamanan target.
- Credentials – Data kredensial yang dicuri dari korban, seperti username dan password, diperoleh melalui berbagai metode termasuk phishing atau pembelian di pasar gelap.
- Malicious Code – Kode berbahaya digunakan dalam serangan siber untuk menginfeksi sistem, mencuri data, atau menyabotase infrastruktur target.
- Manpower – Rusia memanfaatkan tenaga kerja dari komunitas peretas dan aktor kriminal untuk melaksanakan operasi siber mereka.
- Stolen Information – Data yang dicuri dari target (seperti informasi pribadi, data pemerintah, dan intelijen bisnis) dimanfaatkan untuk kepentingan geopolitik dan ekonomi.
Infografis ini memperjelas bagaimana kelompok peretas yang berafiliasi dengan Rusia, seperti APT44 (Sandworm, FROZENBARENTS), menggunakan tool yang tersedia di dunia kejahatan siber untuk melancarkan operasi mereka. Dengan menggunakan sumber daya ini, Rusia dapat menjalankan serangan tanpa harus mengembangkan tool sendiri, mengurangi biaya operasional, dan menyulitkan upaya pelacakan oleh pihak keamanan.
Selain itu, penggunaan tool dari crime marketplaces juga membuat serangan ini lebih sulit diatribusikan secara langsung kepada pemerintah Rusia, karena mereka tampak seperti aktivitas kriminal biasa. Ini menjadi bagian dari strategi “low-equity” yang diadopsi oleh Rusia sejak meningkatnya konflik dengan Ukraina.
Infografis ini menggambarkan bagaimana ekosistem kejahatan siber telah berkembang menjadi jaringan yang semakin kompleks, di mana aktor negara tidak lagi bertindak sendiri, tetapi memanfaatkan layanan dari komunitas kriminal siber untuk menjalankan operasi mereka dengan efisiensi tinggi dan risiko rendah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peningkatan keamanan siber global untuk melawan ancaman yang semakin terorganisir.
Apa yang Harus Dikhawatirkan?
Sebagai Pembelajar cyber security, saya menilai pola yang ditunjukkan oleh kelompok seperti APT44 sangat mengkhawatirkan. “Penggunaan alat yang tersedia di pasar kriminal siber menunjukkan bahwa negara tidak harus mengembangkan teknologi mereka sendiri untuk tetap berbahaya. Ini membuat deteksi lebih sulit dan respons lebih kompleks,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa serangan seperti ini dapat menyebar ke luar target utama, terutama karena alat yang mereka gunakan juga tersedia bagi kelompok kriminal lainnya. Artinya, bukan hanya pemerintah yang perlu waspada, tetapi juga perusahaan dan individu.
Bagaimana Cara Menghadapi Ancaman Ini?
Untuk mengurangi dampak dari serangan siber yang semakin kompleks ini, diperlukan langkah-langkah strategis, antara lain:
- Peningkatan Deteksi dan Intelijen Siber: Organisasi harus memantau ancaman secara proaktif dan bekerja sama dengan komunitas global untuk berbagi informasi tentang taktik terbaru.
- Menerapkan Keamanan Zero Trust: Sistem keamanan harus dirancang dengan asumsi bahwa ancaman bisa berasal dari mana saja, termasuk dari dalam jaringan organisasi itu sendiri.
- Pendidikan dan Kesadaran Keamanan Siber: Perusahaan dan individu harus memahami taktik phishing dan metode lain yang sering digunakan untuk menyebarkan malware.
- Kolaborasi Internasional: Negara-negara harus bekerja sama dalam mengidentifikasi dan menghentikan infrastruktur yang digunakan dalam serangan siber semacam ini.
Dunia Siber Semakin Menjadi Medan Perang
APT44 dan kelompok-kelompok serupa menunjukkan bagaimana dunia siber telah menjadi medan perang yang kompleks. Negara-negara kini dapat menggunakan alat yang sebelumnya hanya digunakan oleh kriminal siber untuk menyamarkan operasi mereka. Serangan seperti spear-phishing, ransomware, dan serangan terhadap infrastruktur kritis akan terus berkembang, sehingga penting bagi organisasi dan individu untuk meningkatkan pertahanan mereka terhadap ancaman yang semakin canggih ini.















Comments are closed