Shopping cart

Magazines cover a wide array subjects, including but not limited to fashion, lifestyle, health, politics, business, Entertainment, sports, science,

TnewsTnews
Application Security

Dari Sistem Lama ke 5G: Ancaman Keamanan Siber yang Harus Diwaspadai di 2025

Dari Sistem Lama ke 5G: Ancaman Keamanan Siber yang Harus Diwaspadai di 2025

Setiap awal tahun, berita tentang rekor baru dalam serangan siber selalu muncul, dan 2025 tidak terkecuali. Laporan State of the Software Supply Chain dari Sonatype mengungkapkan bahwa tahun 2024 mencatat aktivitas perangkat lunak berbahaya tertinggi dalam satu dekade, dengan lebih dari 704.102 paket perangkat lunak berbahaya terdeteksi.

Di era digital yang semakin berkembang, perusahaan harus semakin waspada terhadap ancaman siber yang semakin canggih. Dengan semakin banyaknya perangkat yang terhubung ke jaringan, permukaan serangan (attack surface) pun semakin luas. Bagi bisnis modern, melindungi operasi, data, dan reputasi menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, penting untuk memahami ancaman yang ada dan bagaimana cara terbaik untuk menghadapinya.

Menelusuri Taktik Pelaku Kejahatan Siber

Serangan siber saat ini bukan lagi sekadar aktivitas individu, melainkan industri dengan jaringan luas dan sumber daya besar. Beberapa kelompok bahkan memiliki tim riset dan pengembangan sendiri untuk menemukan celah keamanan baru.

Salah satu tahap awal yang paling krusial dalam serangan siber adalah fase reconnaissance atau pengintaian. Pada tahap ini, peretas mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang target mereka, mulai dari jaringan, sistem perangkat lunak yang digunakan, hingga informasi tentang karyawan melalui LinkedIn atau sumber terbuka lainnya.

Sebagai seorang pembelajar di bidang keamanan siber, saya menyadari bahwa pengintaian ini sering kali dilakukan dengan metode teknis seperti IP address pinging (mengecek apakah suatu server aktif dan dapat diakses), port scanning (menganalisis port yang terbuka di suatu server), hingga eksploitasi akun karyawan dengan akses istimewa. Dengan memahami cara kerja peretas, organisasi dapat mengambil langkah proaktif dalam memperkuat pertahanan mereka.

Meningkatnya Permukaan Serangan dengan 5G

Pertumbuhan perangkat yang terhubung ke jaringan membuat permukaan serangan semakin luas. Salah satu perkembangan terbesar adalah hadirnya jaringan 5G Standalone (SA), yang membawa kemampuan baru bagi perusahaan, tetapi juga meningkatkan tantangan keamanan.

Namun, tidak semua perubahan memperburuk keadaan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak jaringan lama seperti 2G dan 3G mulai dihentikan (sunsetting), yang membantu menyederhanakan sistem keamanan dengan mengurangi jumlah sistem yang harus dilindungi. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dengan perangkat atau sistem lama yang masih terhubung ke jaringan tanpa pengawasan yang memadai.

Sering kali, perangkat lama yang terlupakan menjadi celah masuk bagi peretas. Misalnya, sistem yang diperoleh melalui akuisisi bisnis mungkin masih terhubung ke jaringan utama tanpa perlindungan yang cukup. Oleh karena itu, setiap organisasi harus memiliki pemetaan menyeluruh terhadap semua perangkat dan sistem yang digunakan.

Metode Serangan Siber yang Harus Diwaspadai

Untuk melindungi organisasi dari ancaman siber, penting untuk memahami metode serangan yang paling sering digunakan:

1. Serangan Phishing

Serangan ini masih menjadi salah satu metode paling efektif bagi peretas untuk mendapatkan akses ke sistem internal perusahaan. Melalui email atau pesan yang tampak sah, penyerang dapat membujuk korban untuk mengungkapkan informasi sensitif seperti kata sandi atau kredensial masuk.

Sebagai bentuk pencegahan, organisasi harus menerapkan pelatihan kesadaran keamanan bagi karyawan, menerapkan autentikasi multi-faktor (multi-factor authentication), dan membatasi akses berdasarkan prinsip least privilege (hanya memberikan akses minimal yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas tertentu).

2. Serangan Rantai Pasokan (Supply Chain Attack)

Serangan ini menargetkan vendor atau mitra bisnis sebagai jalan masuk ke sistem utama perusahaan. Jika sistem keamanan vendor lebih lemah, peretas dapat mengeksploitasi hubungan kepercayaan antara vendor dan perusahaan target untuk menyusup ke dalam jaringan.

Untuk mengatasi ancaman ini, organisasi harus secara ketat mengevaluasi keamanan siber mitra bisnis mereka dan memastikan bahwa semua pihak dalam rantai pasokan mematuhi standar keamanan yang tinggi.

3. Serangan terhadap Router dan Server yang Terbuka

Perangkat jaringan yang kurang terlindungi sering kali menjadi target empuk bagi peretas. Peralatan lama yang masih menggunakan protokol lama seperti Telnet, yang tidak memiliki enkripsi bawaan, menjadi celah yang bisa dieksploitasi.

Untuk mengurangi risiko ini, semua perangkat jaringan harus dikonfigurasi ulang untuk menggunakan protokol yang lebih aman, seperti SSH atau VPN, serta menonaktifkan layanan yang tidak digunakan.

4. Serangan terhadap Jaringan Korporat dan Operasional

Salah satu titik lemah terbesar dalam keamanan siber adalah koneksi antara jaringan korporat dan jaringan operasional (OT network). Misalnya, seorang administrator jaringan mungkin memiliki laptop yang terhubung ke internet untuk email perusahaan, tetapi juga digunakan untuk mengakses jaringan operasional yang kritis. Jika laptop ini terkena malware, seluruh sistem operasional bisa berada dalam bahaya.

Cara terbaik untuk mencegah serangan jenis ini adalah dengan menerapkan pemisahan akses yang ketat, menggunakan perangkat berbeda untuk tugas yang berbeda, dan menerapkan autentikasi yang kuat di semua tingkat akses.

Menghadapi 2025 dengan Pertahanan yang Lebih Kuat

Dengan semakin banyaknya perangkat yang terhubung dan teknik serangan yang terus berkembang, organisasi harus selalu waspada. Salah satu langkah terbaik adalah dengan terus memperbarui pengetahuan dan teknologi keamanan siber mereka.

Sebagai bagian dari komunitas keamanan siber, saya percaya bahwa pendekatan terbaik adalah dengan mengadopsi kebijakan keamanan berlapis (defense in depth), mengedukasi karyawan tentang ancaman siber, serta selalu melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem keamanan yang ada.

GSMA telah menciptakan Mobile Cybersecurity Knowledge Base, sumber daya yang dapat digunakan oleh operator jaringan, produsen perangkat, dan penyedia layanan untuk memahami ancaman yang ada dan menerapkan strategi pertahanan terbaik.

Pada akhirnya, keamanan siber bukan hanya tanggung jawab tim IT, tetapi seluruh organisasi. Dengan kesadaran, strategi yang tepat, dan teknologi yang mendukung, kita dapat menghadapi ancaman siber di tahun 2025 dengan lebih siap dan tangguh.

 

Comments are closed

Related Posts