Sebuah survei global terhadap 4.042 eksekutif bisnis dan teknologi menunjukkan bahwa banyak organisasi belum sepenuhnya fokus dalam memastikan ketahanan siber (cyber resiliency). Hasil survei ini mengungkapkan bahwa organisasi perlu memperbaiki alokasi sumber daya berdasarkan tingkat risiko nyata yang dihadapi terkait ancaman keamanan siber.
Temuan Utama Survei PwC
Survei yang dilakukan oleh PwC mengungkap beberapa fakta penting:
- Penerapan Solusi Pemulihan Siber:
- Hanya 39% responden bekerja di organisasi yang telah atau berencana menerapkan solusi pemulihan siber seperti immutable backups (cadangan data yang tidak dapat diubah).
- 34% memiliki atau berencana membentuk tim lintas fungsi untuk ketahanan siber.
- 35% telah atau akan mendefinisikan buku panduan (playbook) pemulihan siber.
- Kurang dari 42% organisasi telah sepenuhnya mengimplementasikan teknologi ketahanan siber, dan hanya 2% organisasi yang menerapkan rencana ketahanan siber di seluruh unit mereka.
- Pengukuran Risiko Siber Minim:
- Meskipun 88% eksekutif menyadari pentingnya investasi dalam keamanan siber, hanya 15% organisasi yang benar-benar mengukur risiko siber mereka.
Masalah Proaktif vs. Reaktif
Michelle Horton, partner di PwC yang memimpin pemasaran risiko dan regulasi siber, menyoroti bahwa banyak organisasi masih bersifat reaktif dalam menangani keamanan siber. Menurut Horton, dalam dunia siber, pertanyaan yang lebih relevan adalah “kapan insiden terjadi”, bukan “apakah insiden akan terjadi”. Semakin lama respons yang dilakukan, semakin mahal dampak insiden tersebut bagi organisasi.
Tren Positif dalam Anggaran Keamanan Siber
Survei menunjukkan bahwa lebih dari 77% responden memperkirakan anggaran keamanan siber akan meningkat tahun depan.
- 30% responden mengantisipasi peningkatan sebesar 6-10%.
- 19% memperkirakan peningkatan lebih dari 11%.
Alasan utama di balik investasi ini meliputi:
- Kepercayaan pelanggan (57%)
- Integritas merek (49%)
- Peluang pertumbuhan bisnis (46%)
Peran CISO dalam Perencanaan Strategis
Namun, survei juga mengungkap bahwa kurang dari setengah responden melibatkan Chief Information Security Officer (CISO) dalam perencanaan strategis, laporan dewan, atau pengawasan penerapan teknologi. Selain itu, banyak eksekutif bisnis tidak melihat keamanan siber sebagai risiko utama bagi organisasi.
Perbedaan Prioritas dalam Keamanan Siber
Ada perbedaan fokus antara eksekutif bisnis dan teknologi. Eksekutif bisnis lebih memprioritaskan:
- Perlindungan data dan kepercayaan (48%)
- Modernisasi teknologi
Sedangkan eksekutif teknologi menempatkan keamanan cloud sebagai prioritas utama (34%), diikuti oleh perlindungan data (28%).
Kesiapan yang Tidak Optimal
Banyak organisasi khawatir tentang ancaman yang sebenarnya paling sedikit mereka siapkan untuk diatasi:
- 42% responden menyebut ancaman terkait cloud sebagai perhatian utama, tetapi 34% mengaku paling tidak siap menanganinya.
- 38% khawatir tentang kebocoran data, namun 25% menyatakan tantangan ini sebagai salah satu yang paling sulit mereka tangani.
Tantangan Ke Depan
Horton menekankan pentingnya peningkatan hygiene siber untuk menghadapi serangan siber di tengah meluasnya permukaan serangan. Banyak organisasi mulai berinvestasi dalam teknologi AI generatif, tetapi belum memahami sepenuhnya risiko dan implikasinya. AI ini bisa menjadi pedang bermata dua: tanpa langkah-langkah keamanan yang memadai, data sensitif dapat terekspos secara tidak sengaja melalui model AI.
Tidak Ada Keamanan yang Sempurna
Horton juga menegaskan bahwa keamanan siber yang sempurna tidak pernah ada. Meskipun profesional siber berusaha sebaik mungkin mencegah pelanggaran, fokus yang lebih besar diperlukan pada strategi penanggulangan dan pemulihan ketika pelanggaran terjadi, karena insiden semacam itu hampir tidak bisa dihindari.
Hasil survei PwC ini memperlihatkan tantangan besar dalam memastikan ketahanan siber di berbagai organisasi. Pakar keamanan siber menekankan bahwa strategi reaktif tidak cukup lagi di era serangan digital yang semakin kompleks dan meluas. Organisasi harus beralih ke pendekatan proaktif dengan meningkatkan kesiapan mereka dalam menghadapi insiden dan memperkuat kemampuan pemulihan.
Investasi dalam AI dan teknologi cloud memang memberikan peluang, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, risiko kebocoran data akan meningkat. Pakar menekankan pentingnya keterlibatan CISO dalam pengambilan keputusan strategis agar prioritas keamanan siber dapat sejalan dengan tujuan bisnis.
Contoh Kasus:
Kasus serangan ransomware pada Colonial Pipeline pada tahun 2021 menjadi bukti nyata betapa mahal dan berbahayanya jika organisasi tidak siap menangani insiden. Perusahaan tersebut harus menghentikan operasinya dan membayar tebusan besar untuk memulihkan sistem, yang mengakibatkan gangguan pada pasokan bahan bakar di AS.
Untuk ke depan, penguatan ketahanan siber harus menjadi prioritas utama, bukan hanya sekadar memenuhi regulasi, tetapi juga untuk melindungi kepercayaan pelanggan, integritas bisnis, dan keberlanjutan perusahaan di masa depan.















Comments are closed