Shopping cart

Magazines cover a wide array subjects, including but not limited to fashion, lifestyle, health, politics, business, Entertainment, sports, science,

TnewsTnews
Cyber News and Update

Tanpa Keamanan Siber, Tidak Ada Kemakmuran Ekonomi dan Keamanan Nasional

Tanpa Keamanan Siber, Tidak Ada Kemakmuran Ekonomi dan Keamanan Nasional

Dalam sebuah wawancara eksklusif, Harry Coker, Jr., yang menjabat sebagai Direktur Siber Nasional Amerika Serikat kedua, membagikan pandangannya mengenai pencapaian, tantangan, dan visi strategis selama masa kepemimpinannya. Dengan latar belakang yang luas di Angkatan Laut AS, CIA, dan NSA, Coker membawa perspektif unik dalam memimpin upaya harmonisasi dan implementasi Strategi Siber Nasional di Gedung Putih.

Wawancara ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana keamanan siber telah bertransformasi dari isu teknis menjadi pilar fundamental bagi kemakmuran ekonomi dan keamanan nasional sebuah negara.

Pilar Utama Kepemimpinan: Kolaborasi dan Pendekatan Apolitik

Selama masa jabatannya, Coker menekankan beberapa prinsip fundamental yang menjadi fondasi keberhasilannya dalam mengarahkan kebijakan siber nasional.

Menjadikan Keamanan Siber Isu Non-Partisan

Pencapaian pertama dan utama yang disorot oleh Coker adalah kemampuannya untuk menjalankan tanggung jawab secara apolitik. “Keamanan siber terlalu penting bagi bangsa ini dan dunia untuk dibagi-bagi berdasarkan ideologi politik,” tegasnya. Menurutnya, isu ini harus tetap netral, terlepas dari siapa yang memegang tampuk kekuasaan, untuk memastikan pertahanan negara yang solid dan berkelanjutan.

Membangun Kepercayaan di Antar-Lembaga Pemerintah

Sebagai penasihat utama Presiden dalam strategi dan kebijakan keamanan siber, Office of the National Cyber Director (ONCD) ditugaskan untuk mengoordinasikan berbagai departemen dan lembaga. Coker menerapkan pendekatan kolaboratif dan transparan untuk “memanfaatkan kompetensi inti dari semua mitra kami.”

Salah satu contoh sukses adalah kerja sama dengan Office of Personnel Management (OPM) untuk mengatasi tantangan persyaratan gelar sarjana (S1) yang tidak perlu dalam rekrutmen tenaga kerja siber. “Kita semua tahu ada banyak orang dengan keahlian siber yang mumpuni namun tidak memiliki gelar sarjana di bidang keamanan siber,” jelasnya. Upaya ini dianggap sebagai kemenangan penting untuk memperluas basis talenta siber nasional.

Dari Strategi ke Implementasi: Menghidupkan Visi Keamanan Siber Nasional

Coker menekankan bahwa sebuah strategi yang hebat tidak akan berarti tanpa rencana implementasi yang jelas dan akuntabel.

Implementasi National Cybersecurity Strategy

Di bawah kepemimpinannya, National Cybersecurity Strategy tidak hanya menjadi dokumen indah di atas rak. ONCD membangun rencana implementasi yang mengalir dari strategi tersebut, lengkap dengan tonggak pencapaian (milestones), hasil yang diharapkan (deliverables), dan entitas penanggung jawab. “Kami saling meminta pertanggungjawaban atas hasil-hasil tersebut,” kata Coker.

Memperbaiki Kerentanan Fundamental Internet

Salah satu fokus utamanya adalah mengatasi kelemahan keamanan fundamental internet yang telah diabaikan selama puluhan tahun. “Internet tidak dibangun untuk keamanan; ia dibangun untuk komunikasi dan kenyamanan,” ujarnya. Timnya tidak hanya menyoroti masalah ini tetapi juga mendorong adopsi rekomendasi konkret, baik oleh pemerintah federal maupun sektor swasta. Contohnya adalah pengamanan Border Gateway Protocol (BGP) untuk mencegah pembajakan lalu lintas internet oleh musuh negara.

Tantangan yang Belum Selesai dan Visi ke Depan

Coker juga secara terbuka membahas area-area di mana kemajuan lebih lanjut masih sangat dibutuhkan.

Perlunya Kejelasan Peran dan Tanggung Jawab

Salah satu tantangan terbesar adalah peran dan tanggung jawab yang belum terdefinisi dengan jelas antara ONCD, National Security Council (NSC), dan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA). “Meskipun kami efektif, kami tidak efisien dalam menyelesaikan pekerjaan,” akunya. Kejelasan peran ini sangat penting untuk meningkatkan efisiensi dalam melindungi negara.

Melindungi Entitas Lokal dari Serangan Negara-Bangsa

Coker menyoroti isu kritis mengenai perlindungan entitas negara bagian, lokal, suku, dan teritorial (SLTT). “Pemerintah federal belum sepenuhnya mampu melindungi setiap penduduk Amerika dari serangan negara-bangsa di ranah siber,” katanya. Serangan terhadap sistem air, rumah sakit, atau pencurian data pribadi di tingkat lokal dapat mengikis kepercayaan publik terhadap kemampuan negara untuk melindungi warganya. Menurutnya, ini adalah tantangan jangka panjang yang membutuhkan sumber daya dan keahlian yang sangat besar.

Menuju Harmonisasi Regulasi Siber

Beban kepatuhan (compliance) yang berlebihan menjadi perhatian utama Coker. Menurutnya, harmonisasi regulasi siber adalah kunci untuk efisiensi dan peningkatan keamanan.

Prinsip Resiprositas untuk Mengurangi Beban Kepatuhan

“Jika sebuah entitas telah melakukan serangkaian audit untuk satu regulator, itu seharusnya berlaku juga untuk regulator lain,” jelasnya. Ia mencontohkan industri jasa keuangan yang harus menjawab pertanyaan serupa dari berbagai regulator, menghabiskan hingga 80% waktu mereka untuk audit kepatuhan, bukan operasi keamanan.

Kepatuhan Bukan Jaminan Keamanan

Coker menekankan sebuah adagium penting: “compliance does not equal cybersecurity” (kepatuhan tidak sama dengan keamanan siber). Ia mengusulkan adanya serangkaian regulasi dasar keamanan siber yang berlaku umum di semua sektor infrastruktur kritis, yang kemudian dapat disesuaikan (tailorable) sesuai kebutuhan spesifik sektor. Tujuan akhirnya adalah “menurunkan biaya berbisnis dan meningkatkan keamanan nasional.”

Kesimpulan

Wawancara dengan Harry Coker, Jr. memberikan gambaran yang jelas mengenai evolusi pemikiran strategis keamanan siber di tingkat tertinggi. Kepemimpinannya menandai pergeseran penting dari pendekatan yang terfragmentasi menjadi visi yang lebih terintegrasi, di mana keamanan siber diakui sebagai fondasi mutlak bagi kemakmuran ekonomi dan kedaulatan nasional. Pilar-pilar utamanya—kolaborasi, implementasi yang akuntabel, pengembangan tenaga kerja berbasis keterampilan, dan harmonisasi regulasi—menjadi cetak biru bagi tantangan yang dihadapi oleh para pemimpin siber di seluruh dunia. Visi Coker menegaskan bahwa dalam era digital, tidak ada keamanan nasional yang imajiner tanpa adanya kemakmuran ekonomi yang didukung oleh keamanan siber yang solid.

Poin Kunci Pembelajaran

  • Keamanan Siber adalah Fondasi Ekonomi & Negara: Poin terpenting adalah pergeseran paradigma bahwa keamanan siber bukan lagi sekadar isu IT, melainkan komponen esensial untuk pertumbuhan ekonomi dan pertahanan negara.
  • Keterampilan > Gelar Formal: Dorongan untuk menghapus persyaratan gelar sarjana yang kaku merupakan validasi penting bagi jalur karier berbasis keterampilan di bidang keamanan siber, sebuah pesan krusial bagi para profesional dan calon talenta.
  • Kolaborasi adalah Kunci Implementasi Strategi: Strategi siber nasional yang paling brilian sekalipun akan gagal jika tidak didukung oleh kolaborasi dan kepercayaan antar-lembaga pemerintah untuk melaksanakannya secara efektif.
  • Tantangan Regulasi: Efisiensi vs. Kepatuhan: Harmonisasi regulasi siber adalah kunci untuk membebaskan para CISO dari beban audit yang berulang, sehingga mereka dapat lebih fokus pada pertahanan operasional yang dinamis.
  • Perlindungan Siber Lokal adalah Isu Keamanan Nasional: Serangan terhadap infrastruktur kritis di tingkat lokal (seperti sistem air atau rumah sakit) oleh aktor negara-bangsa dapat secara langsung mengikis kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah pusat untuk melindungi warganya.

Referensi Berita

  • Artikel ini diadaptasi dari wawancara eksklusif Recorded Future News dengan Harry Coker, Jr. mengenai masa jabatannya sebagai Direktur Siber Nasional AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts